lelaki..
kau amparkan indahnya violet merah di depan mataku yang basah..
kau usap jemari yang dingin dan tak berarti..
kau kecup dengan cahaya mentari..
hatiku yang sendu perlahan kau peluk, dan air mata menjadi mayat.. yang mulai terkubur..
betapa indahnya senyumanmu itu, hingga angin sengaja meniupkan sebongkah kesejukan.. dan sayapku kembali utuh..tersentuh..
di sebuah gurauan tibanya
kau bawa aku menjamah sebuah dosa yang tak tampak..
maka petir kembali mengejutkan aku..
aku diam..
menatapmu..
.
jubahmu telah terbagi dua..
cahayamu terurai.. aku pun mengaisnya sendiri..
ah.. darah merah mengalir..
lelaki..
kau bukan milikku..
aku diam..
menatapmu,,..
mengecupmu..
menggenggammu..
dan violet merah itu kau bawa untuknya..
kau amparkan indahnya violet merah di depan mataku yang basah..
kau usap jemari yang dingin dan tak berarti..
kau kecup dengan cahaya mentari..
hatiku yang sendu perlahan kau peluk, dan air mata menjadi mayat.. yang mulai terkubur..
betapa indahnya senyumanmu itu, hingga angin sengaja meniupkan sebongkah kesejukan.. dan sayapku kembali utuh..tersentuh..
di sebuah gurauan tibanya
kau bawa aku menjamah sebuah dosa yang tak tampak..
maka petir kembali mengejutkan aku..
aku diam..
menatapmu..
.
jubahmu telah terbagi dua..
cahayamu terurai.. aku pun mengaisnya sendiri..
ah.. darah merah mengalir..
lelaki..
kau bukan milikku..
aku diam..
menatapmu,,..
mengecupmu..
menggenggammu..
dan violet merah itu kau bawa untuknya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar