Kamu tau?
Waktu yang lama kita habiskan untuk meneguk air hingga hilang haus..
Mendamba bahagia dari setiap nestapa..
Asin air mata yang turun banjiri dunia..
Dan ragu yang membekas setiap aku menatap matamu..
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun..
Dan tik tok tik tok..
Senyummu menyipu aku memerah..
Godamu membahana tawa gembira..
Banyak lagu kita senandungkan bersama
Banyak waktu kita habiskan bersama
Banyak cerita kita bagi bersama.
Dan ragu yang membekas setiap aku menatap matamu.
Mungkin ini memang cinta..
Kamu tau?
Andaikan kamu tau..
Ragu yang membekas setiap aku menatap matamu..
private factory
disini semua tentang perasaan yang kadang nggak bisa di ungkapkan langsung bisa di rangkai dalam kata yang bermakna.. ;) enjoy sharing poems.
Senin, 08 Agustus 2011
Kamis, 09 Desember 2010
aku seperti si bodoh
Aku seperti si bodoh..
terlena dengan duri-duri hidup
yang runcing dan beracun..
Kusentuh sambil diam dalam keburukan
mencaci dan meneriaki kata damai tak ada habisnya
Menarik-narik kekosongan dan lara hati..
Mencari tepian di dalam hatiku..
Menemukanmu, tersenyum penuh arti dan terbingkai manis dalam urat-urat nafsuku.
Ku andaikan kamu mengecup getir dalam hidupku..
yang terabaikan begitu lama
haus akan kebebasan dan kepekaaan hati..
Ketentraman jiwa , kebahagiaan raga..
Namun, apakah kau tau..
Ketika sakit ini menerpa dan luka ini terus terbuka..
Maka terangkanlah gelap hanya untukku
Katakanlah aku ada di jiwamu..
Ku andaikan kamu memelukku..
Aku tanamkan percintaan..
Aku hidupkan kemesraan.
Aku hapus semua lukamu..
Aku seperti si bodoh..
tak habisnya mengandaikanmu..
tak habisnya meneriaki kata damai..
tak kuasa menerima diriku..
Aku seperti si bodoh..
karena aku membiarkan diriku mencintaimu
Dan memeliharamu dalam khayal yang tak pernah berakhir.
ku ingin kau selalu
Ku ingin kau selalu mencintaiku dari jauh
dengan perasaan dan kenangan..
merelakan waktu menepis impian..
Menjaga yang kita janjikan..
Ku ingin kau mencintaiku dari jauh..
dengan kenangan dan kerinduan
Merelakan waktu meneteskan peluh...
menjemput pagi jatuhnya embun..
Ku ingin kau mencintaiku dari jauh
dengan kerinduan dan kesetiaan..
membuang segala sangkaan..
lewat pengalaman masa silam.
Ku ingin kau selalu mencintaiku dari jauh..
dengan kesetiaan dalam kemandirian..
melewati waktu tanpa pertemuan..
bertahan di garis penantian..
Ku ingin kau slalu mencintaiku dari jauh..
Karena aku selalu mencintaimu walau jauh..
Pada daun keringku
Terkenang waktu berkidung tentang pagi
Tangan kita saling bersentuhan
Angin terlalu memanjakan
Sebelum segalanya berakhir
Di siang hari yang prahara..
Terkejut aku nikmati kasar keangkuhan
Aku lepaskan tanpa daya ..
perpisahan..
yang sekarang begitu ngilu.. di kalbu..
Ku saksikan engkau terbang di sembarangan..
dan jatuh ke pelukan..
Entah.......
Pada pangkuan bumi siapa..
Nurrudien.M.B
Terakhir kali aku mencintaimu
Bukan saat ini..
entahlah kapan saatnya..
untuk aku rasakan..
terakhir kali aku mencintaimu..
Untuk aku rasakan berpisah denganmu..
Untuk semua pengorbananmu atas cintaku..
Mungkinkah aku..
ataukah kamu..
yang akan ucapkan..
inilah terakhir kali aku mencintaimu..
puisiku
Mungkin saat ini aku tak melukiskan
semua yang aku rasakan..
Bukan berarti..
Semua ilhamku kan binasa sampai disini.
bukan.. bukan..
Puisiku adalah arti karya murniku..
Dari apapun yang terjadi..
Melebihi peran sebuah fakta..
Tak mesti kata-kata indah yang tertulis..
cukup hanya hatiku yang mengerti..
Bukan orang lain, bukan siapapun..
tapi aku..
puisiku..
Bunda
Terbentang telaga kasih..
dari ikhlasnya hati seorang bunda..
mencurahkan cintanya kepadaku..
Terbentang mahligai pasir..
Dari air mata seorang bunda..
atas suatu kegagalan..
Pelangiku..
berhentilah didekatnya..
Nyanyikan senandung alam nan indah..
untuknya..
Jelaskan padanya wahai angin..
Bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia..
dari ikhlasnya hati seorang bunda..
mencurahkan cintanya kepadaku..
Terbentang mahligai pasir..
Dari air mata seorang bunda..
atas suatu kegagalan..
Pelangiku..
berhentilah didekatnya..
Nyanyikan senandung alam nan indah..
untuknya..
Jelaskan padanya wahai angin..
Bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia..
Langganan:
Komentar (Atom)



