Kamis, 09 Desember 2010

aku seperti si bodoh

Aku seperti si bodoh..
terlena dengan duri-duri hidup
yang runcing dan beracun..
Kusentuh sambil diam dalam keburukan

mencaci dan meneriaki kata damai tak ada habisnya
Menarik-narik kekosongan dan lara hati..
Mencari tepian di dalam hatiku..
Menemukanmu, tersenyum penuh arti dan terbingkai manis dalam urat-urat nafsuku.

Ku andaikan kamu mengecup getir dalam hidupku..
yang terabaikan begitu lama
haus akan kebebasan dan kepekaaan hati..
Ketentraman jiwa , kebahagiaan raga..

Namun, apakah kau tau..
Ketika sakit ini menerpa dan luka ini terus terbuka..
Maka terangkanlah gelap hanya untukku
Katakanlah aku ada di jiwamu..

Ku andaikan kamu memelukku..
Aku tanamkan percintaan..
Aku hidupkan  kemesraan.
Aku hapus semua lukamu..

Aku seperti si bodoh..
tak habisnya mengandaikanmu..
tak habisnya meneriaki kata damai..
tak kuasa menerima diriku..

Aku seperti si bodoh..
karena aku membiarkan diriku mencintaimu
Dan memeliharamu dalam khayal yang tak pernah berakhir.

ku ingin kau selalu

Ku ingin kau selalu mencintaiku dari jauh
dengan perasaan dan kenangan..
merelakan waktu menepis impian..
Menjaga yang kita janjikan..

Ku ingin kau mencintaiku dari jauh..
dengan kenangan dan kerinduan
Merelakan waktu meneteskan peluh...
menjemput pagi jatuhnya embun..

Ku ingin kau mencintaiku dari jauh
dengan kerinduan dan kesetiaan..
membuang segala sangkaan..
lewat pengalaman masa silam.

Ku ingin kau selalu mencintaiku dari jauh..
dengan kesetiaan dalam kemandirian..
melewati waktu tanpa pertemuan..
bertahan di garis penantian..

Ku ingin kau slalu mencintaiku dari jauh..
Karena aku selalu mencintaimu walau jauh..

Pada daun keringku

Terkenang waktu berkidung tentang pagi
Tangan kita saling bersentuhan
Angin terlalu memanjakan
Sebelum segalanya berakhir

Di siang hari yang prahara..
Terkejut aku nikmati kasar keangkuhan
Aku lepaskan tanpa daya ..
perpisahan..
yang sekarang begitu ngilu.. di kalbu..

Ku saksikan engkau terbang di sembarangan..
dan jatuh ke pelukan..
Entah.......
Pada pangkuan bumi siapa..




Nurrudien.M.B

Terakhir kali aku mencintaimu



Bukan saat ini..
entahlah kapan saatnya..
untuk aku rasakan..
terakhir kali aku mencintaimu..

Untuk aku rasakan berpisah denganmu..
Untuk semua pengorbananmu atas cintaku..

Mungkinkah aku..
ataukah kamu..
yang akan ucapkan..
inilah terakhir kali aku mencintaimu..

puisiku

Mungkin saat ini aku tak melukiskan
semua yang aku rasakan..
Bukan berarti..
Semua ilhamku kan binasa sampai disini.

bukan.. bukan..

Puisiku adalah arti karya murniku..  
Dari apapun yang terjadi..
Melebihi peran sebuah fakta..

Tak mesti kata-kata indah yang tertulis..
cukup hanya hatiku yang mengerti..
Bukan orang lain, bukan siapapun..
tapi aku..
puisiku..

Bunda

Terbentang telaga kasih..
dari ikhlasnya hati seorang bunda..
mencurahkan cintanya kepadaku..





Terbentang mahligai pasir..
Dari air mata seorang bunda..
atas suatu kegagalan..

Pelangiku..
berhentilah didekatnya..
Nyanyikan senandung alam nan indah..
untuknya..
Jelaskan padanya wahai angin..
Bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia..

tentangmu..

Kucoba raih bintang itu..
Dengan perahu pelangi
Menuju langit...
Meraih pesonamu..

Alam pun mengerti maknamu
yang menghilangkan sayap-sayap patah..

Tapi angin mati meredup..
bukan bingar lagi merdumu..
tapi sayup.. sayup..
seperti alunan lonceng..

Dan tetaplah kau melati..
Sukar kulenyapkan bayangmu..
Sudahlah..
Hanya itu tentangmu..

untitled (2008)

Kusentuh sepiku berbisik lirih..

Terdiam, hanya bisu berbait.

Di kala kau tak lagi mendendangkan tawa cemerlangmu. Kembali tak ada bunga yang indah dihatiku..

Aku harus kembali mengingat,bagaimana ketika kuraih bintang di hatimu.
Kerap jatuh, namun kembali aku berdiri.
Hingga mampu kudekap.

Dan kini.

Memahami lagu-mu bagaikan berbahasa yang tak teraba oleh indera.

Oh ..

Hati ini tak kuat menahan..
Syair rindu yang tlah mengendap..
Tiada pula ilham yang datang padaku.

Dan lagi aku bertanya

Bisakah kau beri lagi rasa itu?

Agar tiada lagi bahasa yang tak teraba.. Antara kita..

Selasa, 07 Desember 2010

untuk lelaki (2008)

lelaki..
kau amparkan indahnya violet merah di depan mataku yang basah..

kau usap jemari yang dingin dan tak berarti..

kau kecup dengan cahaya mentari..

hatiku yang sendu perlahan kau peluk, dan air mata menjadi mayat.. yang mulai terkubur..


betapa indahnya senyumanmu itu, hingga angin sengaja meniupkan sebongkah kesejukan.. dan sayapku kembali utuh..tersentuh..


di sebuah gurauan tibanya


kau bawa aku menjamah sebuah dosa yang tak tampak..


maka petir kembali mengejutkan aku..


aku diam..

menatapmu..
.
jubahmu telah terbagi dua..
cahayamu terurai.. aku pun mengaisnya sendiri..

ah.. darah merah mengalir..


lelaki..

kau bukan milikku..

aku diam..

menatapmu,,..
mengecupmu..
menggenggammu..

dan violet merah itu kau bawa untuknya..